Page Nav

HIDE

Post Snippets

FALSE
HIDE_BLOG
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Politik Riang Gembira…???

  Mohammad Hatta dalam pengasingan pasca Agresi Militer Belanda II, Tahun 1948. ( Foto: KTLV ) Afwan Maksum Oleh: Afwan Maksum * Menjelang p...

 

Mohammad Hatta dalam pengasingan pasca Agresi Militer Belanda II, Tahun 1948. (Foto: KTLV)

Afwan Maksum

Oleh: Afwan Maksum *


Menjelang perhelatan Pemilu yang akan diadakan pada tanggal 14 Februari 2024, membicarakan keluarga Presiden Jokowi memang tidak akan ada habis-habisnya. Dimulai dengan Pertama, dari proses pencalonan si anak sulung yang penuh kontroversi, dengan menggunakan tangan sang Paman Usman, Undang-Undang diubah hanya untuk memuluskan agar sang ponakan bisa menjadi bakal calon Wakil Presiden, dan baru kali ini di dalam catatan Sejarah bahwa ada Presiden aktif mencalonkan anaknya menjadi kandidat calon Wakil Presiden. 

Kedua, tersebarnya secara massive dan serentak baliho ukuran besar si putra kedua, Kaesang Pangarep, dengan berbagai pose, yang saat ini menjabat Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurut pengakuan salah seorang Pengurus PSI daerah, bahwa di daerahnya kebagian 3500 baliho ukuran besar, jika dikalikan di setiap Provinsi Indonesia, maka ongkos cetak baliho sekaligus biaya pasang akan mencapai milyaran rupiah, padahal belum tentu di daerah tersebut memiliki struktur  kepengurusan PSI secara lengkap. Maka akan timbul pertanyaan, dari mana sumber pembiayaan cetak dan pasang Baliho Kaesang tersebut? 

Pantas jika rakyat bertanya-tanya, karena seperti kita ketahui bersama, bahwa Kaesang berprofesi seorang pengusaha pisang goreng, apakah dagangan pisang gorengnya sampai ke seluruh Indonesia? Sehingga menjadi laku keras dan bisa membiayai PSI? Oleh sebab itu, Lembaga KPU harus dan wajib membuka hasil audit Partai Politik mengenai sumber pembiayaan dari seluruh Partai Politik, termasuk PSI yang dipimpin Kaesang. 

Proses Kaesang menjadi ketua umum PSI pun tidak membutuhkan waktu lama, tidak seperti ketua umum partai-partai yang lain, membutuhkan proses yang cukup lama selain harus memiliki kapasitas dan kapabilitas sehingga bisa dianggap mampu untuk menjadi seorang ketua umum, seorang Kaesang hanya membutuhkan waktu dua hari saja menjadi kader PSI, setelah itu langsung didapuk untuk duduk sebagai ketua umum. Tentu rakyat yang tadinya bersimpati kepada PSI menjadi bertanya-tanya, kehebatan apa yang dimiliki Kaesang sehingga bisa tanpa proses untuk menjadi seorang ketua umum sebuah partai? Apakah sebegitu miskin kadernya sehingga PSI kehabisan stok orang-orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk dipilih menjadi ketua umum, sehingga memilih orang yang sama sekali tidak memiliki kemampuan politik? Rakyat cuma mampu menyimpulkan, karena saat ini bapaknya menjadi Presiden. Bukan juga tidak mungkin, ini merupakan bagian dari rencana politik sang bapak yang ingin melanggengkan kekuasaannya?   

Sejarah para pendiri Bangsa Indonesia penuh dengan cerita pengorbanan dan heroisme yang membanggakan kita sebagai anak bangsa. Mereka yang notabene mayoritas merupakan orang-orang terdidik dan sebagian merupakan alumni dari berbagai universitas di Eropa, rela mengorbankan hidup nyaman, dengan bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, namun mereka ikhlas hidup menderita sebagai tawanan pemerintah Hindia Belanda, karena bermimpi dapat memerdekakan bangsanya. 

Seperti, Mohammad Hatta (alumni Universitas Erasmus Rotterdam) dan Sutan Sjahrir (alumni Universitas Amsterdam Belanda)—keduanya dibuang ke Penjara Boven Digoel, terletak di sebuah kabupaten di Provinsi Papua Selatan, yang merupakan tempat pembuangan paling menyeramkan pada saat itu, karena keterasingan lokasi dan “ganas”nya alam. Setelah dari Boven Digoel, keduanya dipindahkan ke Banda Neira, yang terletak di kepulauan Banda, Provinsi Maluku, bergabung dengan Iwa Koesoemasoematri dan dr. Cipto Mangunkusumo yang terlebih dahulu diasingkan di Banda Neira. 

Setelah Indonesia merdeka, Bung Hatta yang merupakan Wakil Presiden Indonesia Pertama, bersama Bung Karno memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, sedangkan Sutan Sjahrir merupakan Perdana Menteri Pertama Indonesia di era Pemerintahan Parlemen, memiliki kehidupan yang jauh dari layak, dibandingkan para pejabat-pejabat Indonesia saat ini. Bahkan, Bung Hatta pernah memiliki keinginan kuat untuk membeli sepatu, namun tidak kesampaian. Beliau sangat mendambakan sepatu Bally. Bahkan saking kepinginnya, ia memotong iklan sepatu itu dan menyimpannya ke dalam dompet sembari berharap bahwa suatu hari ia bisa membeli sepatu tersebut. Namun sayangnya, hingga ia tutup usia, Bung Hatta belum pernah kesampaian untuk membeli sepatu impiannya tersebut.

Dari Sejarah juga dapat kita lihat, dari semua para Pendiri Bangsa Indonesia, semua menganggap bahwa dunia politik harus dijalankan dengan serius, karena menyangkut hajat hidup jutaan rakyat, orang-orang dari lembaga politik inilah yang nantinya akan menghasilkan kebijakan Negara yang diperuntukkan bagi kemakmuran rakyat. Bahkan berbeda pandangan politik pun kerap terjadi dan mundur dari sebuah jabatan merupakan hal yang biasa pada saat itu, seperti yang dicontohkan Bung Hatta, beliau rela mundur sebagai Wakil Presiden karena sudah tidak sejalan dengan Presiden Soekarno. Bahkan Sutan Sjahrir rela dipenjara sekalipun karena mempertahankan prinsip politik. Sehingga sungguh ironi jika seorang ketua umum partai politik yang secara kebetulan anak seorang Presiden, mengkampanyekan jargon politik riang gembira, apakah kehidupan rakyat Indonesia mau dijadikan lelucon atau lawakan? Jutaan rakyat Indonesia yang masih hidup dibawah taraf kemiskinan butuh program nyata, stop model pencitraan yang selama ini kalian sajikan. Seharusnya PSI mengkampanyekan program-program yang pro-rakyat jika masuk di parlemen, rakyat tidak butuh ribuan baliho Kaesang yang sedikitpun tidak mengandung nilai estetika itu, malah mengundang protes dari kaum milenial dengan tagar “Kami Muak“.  

Seorang Presiden Jokowi harus belajar dan mencontoh Presiden BJ Habibie. Pada tahun 1998, jika Habibie mau bertahan secara konstitusional menjadi presiden, beliau bisa menjadi presiden sampai tahun 2003. Tetapi, Presiden BJ Habibie langsung mengumumkan akan mengadakan Pemilu agar rakyat Indonesia bisa langsung memilih pemimpinnya sendiri melalui Pemilu yang baik dan benar, dan terjadilah pemilu yang baik dan benar tersebut pada tahun 1999. Merupakan Pemilu pertama pasca runtuhnya Orde Baru, sesudah puluhan tahun Indonesia tidak pernah mengadakan Pemilu dengan baik dan benar. 

Dengan drama-drama dan atraksi politik murahan yang dipertontonkan saat ini, sebenarnya apa yang ingin anda wariskan terhadap bangsa ini Pak Jokowi?

MERDEKA!!!


* Penulis adalah Aktivis Reformasi '98.

Tidak ada komentar

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.