Intelijen militer yang mempunyai tugas untuk mendapatkan informasi terkait dengan cuaca (weather), medan (terrain) dan musuh (enemy)


Judul : Paradoxes of Strategic Intelligence

Penulis : Richard K Betts, Thomas G Mahnken dkk

Penerbit : Frank Cass Publishers, Crown House, 47 Chase Side, SouthgateLondon N145BP

Bahasa : Inggris

Tebal buku : 204 halaman

Peresensi : Toni Ervianto (Alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia)


Berbeda dengan intelijen militer yang mempunyai tugas untuk mendapatkan informasi terkait dengan cuaca (weather), medan (terrain) dan musuh (enemy), sehingga relatif dalam dunia intelijen militer jarang ditemukan adanya paradoks-paradoks dalam pelaksanaan tugasnya. Dalam melaksanakan tugasnya, intelijen militer berusaha untuk mendapatkan doktrin militer musuh, sifat-sifat komandan musuh, situasi psikologis yang terjadi di pasukan musuh, rencana, taktik dan strategi musuh dll, dimana untuk mendapatkan informasi tersebut dapat dilakukan dengan menempatkan agen intelijen di “behind the line of enemies”, menyelundupkan agen intelijen ke pasukan musuh (biasanya dilakukan dengan menggunakan agen perempuan) atau informasi tersebut didapatkan dari hasil “interograsi” (dimana di era reformasi sekarang ini, pemberitaan di media massa sering menyebutkan hasil interograsi sebagai “hasil pengembangan”) dari musuh yang berhasil ditahan.

Dalam buku yang ditulis Richard K Betts dkk ini, ditulis beberapa artikel yang terkait dengan paradoks-paradoks yang terjadi dalam penugasan yang dilakukan agen intelijen strategis yang nota bene sangat berbeda dengan tugas-tugas yang dilakukan intelijen militer, intelijen yustisi ataupun intelijen unit-unit lainnya, karena intelijen strategis sangat bersifat kompleks meliputi ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, demografi, biografi, transportasi, iptek, hukum dan hankam di suatu negara. Oleh karena itu, paradoks-paradoks yang muncul demikian beragam.

Michael I Handel misalnya menulis kejutan (surprises) sebagai salah satu hal yang harus diantisipasi oleh intelijen seringkali terjadi secara simultan di beberapa tingkat seperti waktunya, lokasi serangan, kecepatan pergerakan dan penggunaan sistem senjata serta teknologi-teknologi baru (hal 4).

Informasi-informasi yang dikumpulkan oleh lembaga intelijen selalu terkait dengan niat dan kemampuan musuh. Kemampuan musuh baik kemampuan yang material maupun non material. Kemampuan material musuh seperti senjata yang dimiliki, keahlian khusus musuh dan jumlahnya yang sejauh ini sangat sulit untuk disembunyikan, sedangkan kemampuan non material musuh seperti kualitas organisasi musuh, moral dan doktrin musuh yang mana sangat sulit untuk dievaluasi secara tepat. Sementara itu, niat musuh seringkali berubah di menit-menit terakhir dan untuk mengetahuinya bukan pekerjaan mudah bagi intelijen. Biasanya untuk mengetahui niat musuh dapat diketahui dari memoir-memoar, pidato-pidato, brifing dan debriefing dan lain-lain. Mengetahui kemampuan musuh sangat penting bagi intelijen karena ada prinsip “a country with weaker capabilities may nevertheless decide to go a war” (hal 12-13).

Menurut Michael I Handel, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan musuh tidak jadi melakukan serangan yaitu : pertama, kegagalan intelijennya dalam mengumpulkan informasi dan menganalisanya. Kedua, serangan musuh tidak jadi dilaksanakan karena cuaca yang memburuk, kondisi politik yang tidak menguntungkan serta adanya kewaspadaan yang tinggi di pihak lawan (hal 17).

Masalah pendadakan strategis (strategic surprises) adalah masalah yang selalu diantisipasi lembaga intelijen manapun. Kegagalan intelijen dalam mengetahui pendadakan strategis banyak disebabkan karena adanya pemikiran awal yang salah, ethnosentrisme dan persepsi yang salah. Bias etnosentrisme dapat dilihat dari bagaimana Amerika Serikat yang selalu menilai Jepang dan Vietnam tidak memiliki teknologi yang kuat pada PD I, demikian juga dengan Jerman yang memandang sebelah mata kemampuan Rusia atau pada perang Arab vs Israel pada tahun 1947-1948 dan 1967 dimana negara-negara Arab memandang Israel mengalami demoralisasi akibat kekalahannya, sedangkan pada tahun 1973 giliran Israel yang merasa lebih superior dibandingkan negara-negara Arab (hal 22). Oleh karena itu, selalu penting bagi intelijen untuk dapat mengetahui  bahasa yang digunakan musuh, budaya, politik, ideologi dan lain-lainnya (hal 23).

Yang menarik dari tulisan Michael I Handel adalah sosok Hitler, Stalin dan Anwar Sadat (Presiden Mesir) adalah sosok yang tidak pernah percaya dengan intelijen, karena lebih mempercayai informasi yang dimilikinya. Hasilnya adalah kejatuhan mereka yang sangat mengenaskan, walaupun intelijennya sudah mengetahuinya. Oleh karena itu, penting diciptakan hubungan yang saling menghargai antara user dengan lembaga intelijen (hal 26).

Tulisan lainnya yang menarik dari Richard K Betts terkait dengan apakah politisasi intelijen diperlukan atau tidak. Untuk menganalisanya, Betts membandingkan pemikiran Sherman Kent yang merupakan legendaris intelijen dan ahli sejarah dari Yale University dengan Robert Gates, mantan Direktur CIA di era Presiden Ronald Reagan dan mantan Direktur Central Intelligence di era Presiden Bush. Kent menolak politisasi intelijen atau keterlibatan intelijen dalam dunia politik disebabkan karena akan membuat intelijen kehilangan  obyektivitas dan integritasnya (hal 58), sementara Gates menilai intelijen perlu terlibat dalam politik karena agar analisis intelijen berguna bagi user, maka analis intelijen harus mengetahui concern pembuat kebijakan, sehingga diperlukan kedekatan diantara keduanya (hal 59).

Buku ini juga perlu dipelajari secara serius oleh mahasiswa hubungan internasional, mahasiswa kebijakan publik ataupun mahasiswa yang tertarik dengan masalah-masalah intelijen, karena menampilkan dua teori penting dalam intelijen yaitu teori kegagalan intelijen yang dikemukakan Michael I Handel. Karena penyebab kegagalan intelijen cukup banyak, maka intelijen untuk meminimalisir kegagalan intelijen maka perlu mempelajari psikologi, teori informasi dan komunikasi, teori organisasi dan tingkah laku birokrasi, statistik, teori bencana, teori matematika khususnya studi tentang cryptanalysis, antropologi dan sejarah (hal 77).

Teori lainnya adalah teori kejutan (surprise theory) yang juga dikemukakan Michael I Handel, dimana teori kejutan ini mempelajari kejutan dapat terjadi karena struktur konflik dan psikologi kejutan itu sendiri, termasuk teori ini juga mengajarkan tentang memitigasi ancaman dari kejutan-kejutan di era mendatang. Teori kejutan didasarkan pada pemikiran awal Clausewitz terkait strategi dan perang. Menurut teori ini, surprise dapat terjadi disebabkan karena adanya “ultra syndrome”, “cry wolf syndrome”, kompartementasi, hirarki, birokrasi membelit, masalah politik dan “group think” (hal 97-98).

Menurut teori kejutan ini, kegagalan terjadinya sebuah kejutan dapat disebabkan karena : pertama, bahaya yang luar biasa atau pemikiran irasional yang sederhana dari musuh, seperti misalnya penyerangan Jepang ke Pearl Harbour pada 1941 disebabkan karena Jepang sudah tidak mengetahui cara lainnya untuk mengalahkan Amerika Serikat. Kedua, pemikiran “kalah-kalah” dari musuh dimana musuh juga tidak siap untuk menerima kekalahan dan resiko-resikonya (hal 105). Sedangkan untuk mengetahui kejutan-kejutan dimasa depan, maka teori surprise menyarankan untuk mengetahui permasalahan diplomatik yang terjadi, perkembangan ekonomi atau militer. Oleh karena itu, menurut Thomas Christensen, ancaman potensial ke depan yang dapat membuat “Amerika Serikat berdarah-darah” adalah kebangkitan Cina (hal 106). (JI)

Post A Comment:

0 comments:

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.