Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah selesai membahas kerangka kerjasama (FoC) di bidang bea cukai, imigrasi, karantina di tengah pandemi COVID
Tangkapan layar peserta pada pertemuan antar kementerian ke-26 IMT-GT, yang diadakan secara virtual pada hari Kamis.

POKROL - Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah selesai membahas kerangka kerjasama (FoC) di bidang bea cukai, imigrasi, dan karantina di tengah pandemi COVID-19 dan berencana untuk mendukung dan mengadopsi kemitraan tahun depan.

Hal itu disampaikan Direktur Center for Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (CIMT), Firdaus Dahlan usai menghadiri pertemuan ke-26 para menteri IMT-GT yang digelar secara virtual pada Kamis, 17 Desember 2020 .

Pembahasan tentang kemitraan sempat terhenti sejak 2014. Namun, selama pandemi COVID-19, kemitraan sub-regional berhasil menyimpulkan pembahasan tentang FoC di bidang bea cukai, imigrasi, dan karantina, katanya dalam keterangan tertulis.

Dia menegaskan kembali harapan ketiga negara untuk mendukung dan mengadopsi dokumen kerja sama pada 2021.

“(Kerja sama di bidang kepabeanan) diharapkan memberikan manfaat yang lebih besar bagi sektor perdagangan dan rantai pasok barang melalui regulasi dan prosedur yang disederhanakan,” ujarnya.

Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang berbatasan darat dan laut menjalin kerjasama ekonomi dan perdagangan yang disebut Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) pada tahun 1993 dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di ketiga negara tersebut, dengan total populasi sekitar 84 juta.

Untuk itu, IMT-GT telah mengadakan beberapa program rutin untuk mempertemukan para pemangku kepentingan di tiga negara tersebut. Di tengah pandemi COVID-19, ketiga negara tersebut secara virtual menggelar pertemuan menteri IMT-GT ke-26.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara juga membahas strategi perluasan pasar produk ekspor ketiga negara melalui ruang digital.

“IMT-GT berencana meluncurkan IMT-GT E-Commerce Platform pada 2021 untuk menyambut era digital di sektor perdagangan,” ucapnya.

Ketiga negara juga menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur senilai US $ 51 miliar. Proyek tersebut meliputi jembatan, pelabuhan, rel kereta api, transportasi darat, dan kawasan ekonomi khusus.

“Sebagian besar proyek pembangunan akan selesai pada 2021,” ujarnya. (Ant)

Post A Comment:

0 comments:

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.