Bekantan (Nasalis larvatus) makan pisang yang disediakan petugas Balai Penelitian Bekantan, Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan

Sekelompok Bekantan (Nasalis larvatus) makan pisang yang disediakan petugas Balai Penelitian Bekantan, Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan yang didirikan oleh Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). SBI juga telah mendirikan wisata minat khusus di pulau tersebut untuk mendukung konservasi bekantan. (Ant)

 POKROL - Seekor bekantan jantan alfa duduk menyendiri di sebuah bangku di tepian Sungai Barito di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menikmati santapan pisang dalam ketenangan.

Dulunya ia merupakan pejantan dominan yang memimpin kelompok Alpha, bekantan saat ini hidup sendirian setelah posisinya sebagai pemimpin digantikan oleh pejantan dominan lainnya.

"Dia sudah pensiun. Pejantan dominan lain menggantikan posisinya sebagai pemimpin kelompok bekantan," kata Ferry F. Hoesein, pendiri Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Bekantan hidup berkelompok 10-12 ekor, biasanya dipimpin oleh pejantan dominan, dengan wilayah jelajah hingga satu kilometer persegi. Bekantan jantan memiliki ciri khas hidungnya yang panjang, ukurannya lebih panjang dari pada betina.

SBI, organisasi nirlaba yang fokus pada pelestarian bekantan di Kalimantan Selatan, mengembangkan wisata minat khusus di Pulau Curiak sebagai bagian dari upaya pelestarian satwa langka tersebut. Di sini pengunjung bisa menyaksikan dari dekat kehidupan bekantan.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk mencapai dermaga kecil di bawah Jembatan Barito dari Kota Banjarmasin dan 10 menit naik perahu ke pulau kecil tersebut.

Pengamatan primata merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang perilaku mereka.

Sebuah delta di tengah Sungai Barito, yang terbesar di Kalimantan Selatan, membentang sepanjang 800 kilometer. Pulau Curiak adalah rumah bagi Bekantan, meski tidak ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Primata lain yang pernah menghuni pulau ini adalah lutung keperakan (Trachypithecus cristatus) dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

Monyet berhidung panjang pertama kali ditemukan di pulau ini pada tahun 2015. SBI, dengan dukungan Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 2018, mendirikan Stasiun Penelitian Bekantan, tidak jauh dari Pulau Curiak, sebagai laboratorium alam ekosistem lahan basah.

“Sebagai destinasi wisata minat khusus, kegiatan di Pulau Curiak meliputi summer course, sekolah konservasi, dan aktivitas relawan. Di sini kita akan mengamati primata dan mengikuti kegiatan konservasi,” kata pendiri SBI, Amalia Rizki.

Rizki mengatakan, pihak penyelenggara menargetkan kelompok wisata yang memiliki minat khusus di bidang konservasi. Pengunjung sebagian besar merupakan peneliti dan pelajar dari sekolah dalam dan luar negeri serta universitas.

Para pengunjung akan mendapatkan informasi tentang jenis flora dan fauna di ekosistem lahan basah dan upaya yang dilakukan untuk melestarikannya. Para pengunjung akan mengikuti observasi lapangan tentang kehidupan liar di pulau itu. Mereka dapat memilih untuk mengamati primata atau reptilia, seperti biawak dan ular, dan burung.

Tur ini ditawarkan secara gratis, tetapi pengunjung akan menyumbang dan berpartisipasi dalam penanaman pohon rambai (Sonneratia caseolaris). Rambai, sejenis bakau, merupakan makanan yang disukai para bekantan.


Di luar kawasan konservasi

Diakui Amalia, sulitnya melestarikan spesies yang dikenal dengan nama monyet belanda yang terkenal hidungnya mancung dan kulitnya yang merah ini di luar kawasan konservasi. Apalagi, Pulau Curiak terletak di jalur sungai yang ramai dilintasi tongkang, pengangkut batu bara dan peti kemas, serta dekat dengan kawasan pemukiman.

Bekantan (nama ilmiah: Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan.

Karenanya, kegiatan pariwisata di pulau itu juga melibatkan nelayan setempat untuk memberdayakan masyarakat setempat.

“Kearifan lokal bisa kita amati di sini, menyaksikan nelayan memasang jaring ikan di sungai dan membantu mereka menanam mangrove yang akan menambah stok ikan di daerah tersebut,” tambahnya.

Karenanya, wisata minat khusus di Pulau Curiak juga akan menawarkan keuntungan ekonomi bagi nelayan setempat.

“Uang bisa didapat dari sewa perahu dan pengadaan bibit rambai. Yang lebih penting, mereka bisa menikmati peningkatan stok ikan, karena populasi mangrove juga meningkat,” ujarnya.

Seorang nelayan setempat mengemukakan bahwa ketika air sungai surut, mereka dapat menangkap ikan dan udang dengan mudah dengan memasang jaring di sepanjang tepian sungai.

“Kami kemudian menjualnya di pasar ikan terapung di sini,” ujarnya.

Pengunjung juga akan ambil bagian dalam kampanye perang plastik. Selama mengikuti river cruise, mereka bisa mengumpulkan sampah plastik yang terbawa arus dari hulu Sungai Barito.


Populasi meningkat dua kali lipat di Curiak

Nampaknya wisata minat khusus - gabungan antara pariwisata dan upaya konservasi - di Pulau Curiak telah membuahkan hasil.

Populasi bekantan meningkat dua kali lipat, dari hanya 14 saat pertama kali terdeteksi di pulau itu pada 2015 menjadi sekitar 28 pada 2020. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: Alpha, Bravo, dan Charlie.


Begitu pula dengan areal penanaman kembali pohon rambai yang meningkat, dan luas pulau bertambah, dari 2,7 hektar menjadi hampir empat hektar dalam waktu tiga tahun.

“Kami membutuhkan dukungan dari pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat untuk melindungi spesies yang terancam punah ini,” tegas Amalia.

Kalimantan Selatan memiliki 11 kawasan konservasi Bekantan, antara lain di Pulau Bakut, Pulau Kaget, dan Kuala Lupak di Kabupaten Barito Kuala.

Populasi mereka di Pulau Bakut - sebuah delta seluas 15,58 hektar di tengah Sungai Barito - diperkirakan mencapai 60 orang yang terbagi dalam empat kelompok.

Populasi Bekantan, salah satu dari 25 spesies yang dilindungi pemerintah, harus ditingkatkan. Dalam waktu kurang dari lima tahun, populasinya harus meningkat setidaknya dua persen.

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah menempatkan Bekantan dalam daftar merah spesies yang terancam punah pada tahun 2000. Ia juga ditempatkan di Appendix 1 CITES yang melarang perdagangan spesies tersebut.

Kelestarian monyet belanda terancam oleh perubahan besar-besaran penggunaan lahan serta kebakaran hutan dan lahan yang telah menyusut habitatnya. Perdagangan ilegal telah memperburuk situasi.

Menurut data BKSDA Kalimantan Selatan, pada 2019, 2.400 Bekantan tersisa di provinsi tersebut, dari lima ribu pada 2013. Angka tersebut diperkirakan akan semakin menyusut, dengan perdagangan ilegal yang ekstensif dan kebakaran hutan. (Ant)

Pokrol

Pokrol

Pokrol Indonesia

Post A Comment:

0 comments:

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.