Stephen Hawking sebagai ilmuan brilian penerus jejak Albert Enstein dan Galileo. Salah satu pemikirannya perihal ledakan besar alam semesta


Judul Buku : My Brief History (Sejarah Singkat Saya)

Penulis : Stephen Hawking

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Cetakan : 2017

Tebal : 173 halaman

ISBN : 978-602-03-0006-1

Peresensi : Muhammad Khambali (Esais dan pegiat di Oceh Buku, Jakarta)


14 Maret lalu dunia sains baru saja kehilangan Stephen Hawking-ditanggal yang sama dengan hari kelahiran Albert Enstein. Itu mengingatkan kita dengan apa yang pernah Hawking utarakan dalam buku memoar hidupnya, Sejarah Singkat Saya. Hawking mengawali bukunya itu dengan pernyataan bahwa dirinya lahir tepat tiga ratus tahun sesudah kematian Galileo. Hawking memperkirakan ada sekitar 200 ribu bayi lahir pada 8 Januari 1942, tetapi, “Saya tidak tahu apakah satu di antara mereka kemudian ada yang tertarik pada astronomi.”

Dunia kerap mendaku Stephen Hawking sebagai ilmuan brilian penerus jejak Albert Enstein dan Galileo. Salah satu pemikirannya perihal ledakan besar alam semesta dan keberadaan lubang hitam menjadikan Hawking sebagai ahli kosmologi tersohor abad ini. Buku Sejarah Singkat Saya adalah otobiografinya di balik penemuan-penemuannya di bidang fisika dan kosmologi. Melalui buku ini, Hawking bertutur mengenai petualangan hidupnya untuk memahami alam semesta.

Buku dibuka dengan pengisahan masa kecil Hawking. Dalam ingatannya, Hawking mengeluh kepada orangtuanya bahwa sekolah tidak mengajarkan apa-apa kepadanya. Ingatan yang mengesankannya bukan datang dari bangku sekolah, melainkan justru dari mainan kereta api. Hawking kecil amat menyenangi berbagai permainan yang dimilikinya. Bersama teman sekolahnya, Hawking menciptakan serangkaian permainan sangat rumit.

Minatnya pada sains tumbuh dalam dorongan rasa ingin tahunya. Hawking penasaran bagaimana permainan, juga kereta api, kapal, dan pesawat terbang dapat bekerja dan bagaimana mengendalikannya. Kelak, ketika berkuliah, Hawking merasa hasrat masa kecilnya tersebut terpenuhi oleh risetnya di bidang kosmologi. Hawking berujar, “Jika bisa mengerti cara bekerja alam semesta, maka boleh dikata kita bisa mengendalikannya.” (hlm. 16).

Selama bersekolah Hawking tidak pernah berada di peringkat di atas rata-rata kelas. Pekerjaan di kelas tidak rapi, dan tulisan tangannya memusingkan guru. Tapi bagi Hawking, fisika dan astronomi menawarkan harapan memahami dari mana kita datang dan mengapa kita ada di sini. Lantas Hawking bertekat ingin merenungi luasnya alam semesta (hal. 40).

Hawking meneruskan kuliah di Cambridge University. Di sana Hawking berkutat dengan tumpukan buku-buku teori fisika semisal relativitas umumnya Albert Einstein, dan mendatangi pelbagai perkuliahan. Namun Hawking mengeluh, “Saya mengikuti kata-kata dan rumus-rumusnya, tapi saya tak benar-benar menangkap pelajarannya.”

Ketimbang seorang ilmuan yang hanya menjadi bagian tim besar yang melakukan percobaan selama bertahun-tahun, Hawking lebih senang mendaku dirinya sebagai ahli teori. Seperti diutarakannya, “Seorang ahli teori bisa mendapatkan gagasan pada suatu siang, atau dalam kasus saya, ketika mau tidur, dan menulis makalah sendiri atau bersama satu-dua kolega untuk mendapatkan nama.” (hal. 82).

Pada saat itu, pertanyaan akbar dalam kosmologi pada awal 1960-an adalah apakah alam semesta punya permulaan. Banyak ilmuan secara naluriah menentang gagasan itu, dan teori Ledakan Basar, karena merasa bahwa titik perciptaan kiranya tempat di mana sains buyar. Agama dan tantangan Tuhan bakal diperlukan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bermula. (hlm. 84).

Sewaktu hendak menyelesaikan gelar PhD-nya, Hawking menderita penyakit neuron motor atau ALS (Amyotrophic lateral sclerosis). Dirinya mesti menggunakan kursi roda dan tidak bisa bicara. Untuk beberapa lama, satu-satunya cara Hawking bisa berkomunikasi adalah dengan mengeja tiap kata dengan mengangkat alis tiap kali ditunjukkan huruf yang dia maksud. Menurut Hawking, sukar berkomunikasi dengan cara seperti itu, apalagi menulis makalah sains (hlm. 112). Merasa hidupnya tidak akan panjang, Hawking justru bersemangat dan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Demi mengenalkan sains kepada masyarakat awam, Hawking menulis buku sains populer, A Brief History of Time. Lewat buku tersebut Hawking ingin menyampaikan gambaran mengenai kemajuan manusia menuju pemahaman lengkap atas hukum-hukum yang mengatur alam semesta. Hawking yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan orang tak bisa mengikuti persamaan-persamaan alam semesta. Hawking sendiri mengaku kurang peduli dengan persamaan (hlm. 127).

Ada pernyataan menarik saat Hawking mengisahkan tentang bukunya, A Brief History of Time. Dengan setengah bercanda, ada semacam kebetulan yang membikin bukunya itu kenapa dapat sedemikian laris. Hawking berkisah, “Di tahap pemeriksaan contoh cetak, saya nyaris menghilangkan kalimat terakhir buku itu, yaitu bahwa kita bakal mengatahui isi pikiran tuhan. Andai saya lakukan, buku yang terjual mungkin berkurang separuhnya,” (hlm. 132). (HB)

Pokrol

Pokrol

Pokrol Indonesia

Post A Comment:

0 comments:

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.