Page Nav

HIDE

Post Snippets

FALSE
HIDE_BLOG
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Karakter Bangsa Melalui Revolusi Mental

Budiawan Hamidi Soemitro. Oleh: Budiawan Hamidi Soemitro* Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia setelah C...

Budiawan Hamidi Soemitro.

Oleh: Budiawan Hamidi Soemitro*

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Pada tahun 2017, populasi Indonesia diperkirakan telah melampaui 265 juta orang, membuatnya lebih besar daripada di negara berkembang lainnya.

Hari Penduduk Dunia yang diperingati pada 11 Juli 2017 dengan tema "Keluarga Berencana: Memberdayakan Rakyat, Bangsa Berkembang". Tema tersebut sesuai dengan Hari Keluarga Nasional 24 tanggal 29 Juni 2017, yaitu: "Dengan Hari Keluarga Nasional, Membangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga yang Tangguh".

Kedua tema tersebut menandakan pentingnya masalah kependudukan dan keluarga di Indonesia. Menjelang Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2017, kita perlu membahas hal-hal yang berkaitan dengan populasi dan keluarga dan kondisinya ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya pada tahun 2045. Adakah perubahan sosial yang berarti? Prestasi apa yang telah dibuat? Apa yang masih perlu diatasi?

Menurut data Badan Pusat Statistik, tingkat kelahiran Indonesia mengalami stagnasi pada 2,6 anak per wanita dari tahun 2002 sampai 2012. Tingkat pertumbuhan penduduk tahunan (LPP) telah mencapai 1,49 persen per tahun, lebih tinggi dari perkiraan 1,45 persen per tahun. Karena itu, pemerintah terus berupaya mengurangi angka kelahiran melalui program keluarga berencana.

Kepadatan penduduk mempengaruhi daya dukung dan kemampuan lingkungan. Konversi lahan pertanian terus meningkat, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Secara keseluruhan sawah atau areal perkebunan mengalami penurunan karena beberapa lahan telah dikonversi menjadi kawasan pemukiman. Sebagai konsekuensinya, daerah pertanian melanggar batas hutan.

Data menunjukkan bahwa degradasi hutan tropis meningkat di Kalimantan. Sejak tahun 1950, sekitar 65 persen kawasan hutan telah hancur. Dengan laju deforestasi yang tinggi, tak heran banyak bencana alam telah terjadi, seperti tanah longsor di Ponorogo, Jawa Timur, dan banjir di Sumatera Barat awal tahun ini. Semua konsekuensi dari konversi lahan yang tidak terkendali yang menghancurkan ekosistem alami.


Kondisi demografi penduduk Indonesia

Apa yang akan menjadi perbedaan antara kondisi populasi saat ini dan pada tahun 2045? Pada tahun 2045, penduduk Indonesia akan mencapai 318 juta orang dengan asumsi bahwa tingkat kelahiran dapat dikurangi.

Total angka kelahiran diproyeksikan pada 1,93 anak per perempuan, menunjukkan bahwa slogan "Dua anak sudah cukup" telah diterima masyarakat. Indeks kesetaraan jender relatif baik karena orang tidak membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Yang paling penting adalah mempersiapkan masa depan.

Porsi orang usia produktif antara 15 dan 64 tahun pada 2045 sebagai prasyarat bonus demografi diperkirakan mencapai 66,6 persen. Meskipun angka 2045 akan melewati tahap peluang, sebagai puncak bonus demografi, di mana porsi populasi usia produktif tertinggi akan dicapai pada periode sebelumnya, 2028-2031, pada 67,9 persen.

Puncak bonus demografi masih memiliki prasyarat untuk menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar angkatan kerja, dan untuk mencegah tingkat pengangguran yang tinggi.

Gambaran populasi pada tahun 2045 tidak hanya terlihat dalam kuantitas, tapi juga kualitasnya. Selain peningkatan kesehatan, ditandai dengan peningkatan harapan hidup hingga 71 tahun untuk pria dan 74,8 tahun untuk wanita, dan peningkatan jumlah orang lanjut usia berusia di atas 60 tahun ke atas: 15 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2045.

Dengan angka kelahiran yang lebih rendah, upaya peningkatan kualitas penduduk juga bisa meningkat. Era Golden Indonesia tahun 2045 adalah 28 tahun lagi. Apa artinya ini? Berdasarkan pendekatan siklus hidup, seseorang yang lahir tahun ini akan berusia 28-33 tahun pada tahun 2045, atau usia kerja produktif. Mereka harus diberi makan dengan baik sejak saat ini melalui pola asuh yang hati-hati.

Anak-anak berusia tujuh sampai 19 tahun pada 2017 akan berusia 35 sampai 47 tahun 2045, kelompok yang akan mengendalikan pasar tenaga kerja Indonesia. Kelompok usia ini akan berada di puncak kinerjanya saat itu seiring dengan siklus kehidupan manusia. Artinya, orang-orang ini harus diberi pendidikan yang baik. Mereka harus diajar keterampilan berwirausaha sehingga bisa menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Mereka juga harus belajar tentang karakter melalui "revolusi mental".

Selain pendidikan akademis untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan kewirausahaan juga harus diajarkan agar bisa menjadi tenaga kerja mandiri.

Orang dewasa atau tenaga kerja produktif 2017, berusia 25-60 tahun, juga orang tua yang mendidik dan membesarkan putra dan putri mereka. Kelompok penduduk ini juga akan menjadi bagian dari populasi lanjut usia pada tahun 2045. Orang tua ini memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan Pancasila kepada anak-anak mereka dan menanamkan di dalamnya nilai-nilai luhurnya.

Keberhasilan memproduksi generasi 2045 di negara ini akan ditentukan oleh orang tua sekarang. Jika, saat ini, mereka berperilaku tidak jujur, berbohong atau melanggar janji, jangan kaget kalau nanti di tahun 2045, masih ada kasus korupsi. Populasi usia produktif saat ini, yang akan menjadi lansia pada tahun 2045, juga perlu meningkatkan kualitas diri mereka. Menjadi orang tua yang tangguh adalah harapan semua orang, orang yang sehat, bermartabat, mampu berkontribusi terhadap masyarakat sekitar dan mandiri. Jika orang tua masih mampu memberikan kontribusi ekonomi, bukan tidak mungkin Indonesia kembali menikmati bonus demografi kedua.


Tingkat kesejahteraan keluarga

Gambaran tentang populasi Indonesia perlu dieksplorasi lebih lanjut, terutama di unit masyarakat mikro, yaitu tingkat keluarga. Pemanfaatan koleksi data keluarga di Indonesia sangat penting untuk memberikan gambaran dinamika populasi di tingkat keluarga, terutama bila dikaitkan dengan siklus hidup di antara anggota keluarga sendiri. Banyak informasi berharga dari catatan keluarga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi keluarga saat ini dan pada tahun 2045, selain menggunakan informasi untuk program perencanaan intervensi.

Selain pendidikan formal, generasi kita juga harus dilengkapi dengan sopan santun untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi dasar pemikiran, akting dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat ditanamkan dalam semangat revolusi mental, yang oleh Bung Karno didefinisikan sebagai "gerakan menggembleng rakyat Indonesia dengan mengubah nilai, kepercayaan, pola pikir, perilaku dan budaya, agar bisa menjadi manusia baru dengan hati yang murni. , Disetrika, elang bersemangat dan jiwa yang terbakar. "

Revolusi mental digambarkan dalam tiga nilai utama karakter manusia Indonesia, yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu nilai integritas, etika kerja dan saling membantu.

Integritas dikaitkan dengan perilaku jujur, kredibel, konsisten antara pemikiran dan kata-kata dan tindakan, dan bertanggung jawab. Etika kerja berhubungan dengan sifat kerja keras, kerja cerdas, inovatif, produktif, tangguh dan selalu optimis. Sedangkan nilai "gotong royong" (gotong royong) berarti kemampuan untuk bekerja sama, solidaritas komunal dan mengutamakan kepentingan bersama.

Harus diakui bahwa, pada tingkat yang paling mikro, nilai tersebut telah diadopsi secara efektif dalam lingkungan keluarga. Sebagai contoh yang paling lazim saat ini, nilai kejujuran dalam menangkal benih perilaku korup harus ditanamkan sejak usia dini. Ini akan lebih efektif jika orang tua memberi anak mereka contoh kejujuran yang jelas.

Peran keluarga sangat penting sebagai kendaraan pertama dan utama dalam menabur nilai dan norma baik dalam perkembangan masyarakat dan bangsa. Harus ada kontribusi pembangunan yang seimbang sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh penduduk, dari Sabang hingga Merauke. Dari segi mobilitas, penyebaran populasi Indonesia saat ini masih tidak seimbang. Pulau Jawa, yang hanya 7 persen dari wilayah Indonesia, dihuni oleh 58 persen penduduk.

Dalam hal kepadatan penduduk, negara kita mengalami disparitas distribusi. Di provinsi Papua, tingkat kepadatannya hanya delapan orang per kilometer persegi, sedangkan di Jakarta mencapai 17.000 orang per kilometer persegi.

 Pola distribusi populasi dari satu pulau ke pulau lain tidak banyak berubah. Menurut sensus penduduk terakhir di tahun 2010, porsi penduduk di Jawa yang "pindah" ke Sumatra meningkat menjadi 21 persen dari 1 persen. Namun, persentase distribusi penduduk di pulau lain tetap sama. Di Sulawesi itu 7 persen, Kalimantan 5 persen, Bali dan Nusa Tenggara 5 persen, dan Maluku dan Papua 2 persen.

Solusi untuk mengatasi distribusi populasi yang tidak seimbang sedang dicari. Pemerintah saat ini secara aktif membangun jalur transportasi di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Jalan-jalan kelautan juga dikembangkan untuk membangun konektivitas antar daerah dan kepulauan sehingga mobilitas ditingkatkan baik untuk masyarakat dan komoditas dan layanan.

Dengan demikian, kegiatan ekonomi tidak akan hanya didominasi oleh Jawa. Jika pertumbuhan ekonomi merata di seluruh Indonesia, pada tahun 2045 distribusi populasi antar pulau besar di Indonesia akan lebih banyak.

Dengan peringatan tiga momen besar: Hari Keluarga Nasional pada tanggal 29 Juni, Hari Penduduk Dunia pada tanggal 11 Juli dan Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus, kita harus bertanya apa pekerjaan yang harus dilakukan. Pemerintah tidak akan bisa bekerja sendiri, tapi harus bekerja sama dengan pemerintah daerah, elemen masyarakat dan sektor swasta, serta kalangan akademisi untuk mencapai target dan harapan yang diinginkan mengenai populasi ideal Indonesia pada tahun 2045.

Bukan hanya pemerintah, tapi masyarakat juga harus memainkan perannya dan berbagi tanggung jawab yang sama. Membentuk generasi penerus, yang kredibel dan andal, akan ditentukan oleh kepedulian dan perhatian orang tua di setiap keluarga, melalui pembentukan karakter manusia dengan revolusi mental.

Semua investasi dan pola asuh orang tua hari ini akan menuai ganjaran dari generasi masa depan kita di tahun 2045, menampilkan karakter dan kualitas mereka, untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa. (Pcom)


*Pengamat sosial dan politik kebijakan. Tinggal di perumahan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Blimbing Sari, Yogyakarta.

Tidak ada komentar

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.