Paus sperma (physeter macrocephalus) naas dipublikasikan secara luas dan disiarkan oleh media berita internasional
Seekor hiu paus diselamatkan dari sungai di Kota Kendari ke laut pada Sabtu, 2 Januari 2021. (Ant)

POKROL - Anggota Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara dan komunitas nelayan setempat pada Sabtu menyelamatkan hiu paus (whale shark) di Sungai Kambu setelah gagal membawanya keluar dari sungai menuju laut.

“Hiu paus dengan panjang  3,4 meter tersebut berhasil dievakuasi dari Sungai Kambu di Kecamatan Poasia, Kota Kendari,” kata Kepala Badan Bidang Konservasi, La Ode Kaida.

Butuh waktu dua jam untuk menyelamatkan ke laut mamalia raksasa yang tersesat dan terdampar di sungai yang airnya berlumpur surut, ujarnya.

Kaida menuturkan, hiu paus naas itu pertama kali terlihat berenang di sungai oleh warga sekitar. Dia kemudian menelepon orang lain dan melaporkan tentang penampakannya ke otoritas BKSDA.

Warga Kota Kendari yang melewati jembatan sungai Kambu berhenti sejenak untuk menyaksikan tim penyelamat mengevakuasi mamalia tersebut ke laut, katanya.

Beberapa paus berulang kali tersesat dan terdampar di pesisir Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Pada Juli 2019, seekor paus sepanjang 11 meter ditemukan tewas setelah terdampar di Pantai Bambang Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Bangkai paus naas itu pertama kali ditemukan oleh Siyo, warga Dusun Rekesan di Desa Bago, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, saat menuju persawahannya di dekat kawasan Pantai Bambang.

“Dari kejauhan, saya melihat sesuatu yang besar dan bau. Setelah mendekat, saya tahu itu bangkai ikan paus,” ungkap Siyo.

Penemuan ini kemudian dilaporkan oleh Siyo kepada Kepala Dusun Rekesan dan Kapolsek Pasirian. Bersama beberapa personel satuan keamanan desa, polisi setempat menguburkan bangkai tersebut.

Penguburan itu diperlukan karena bangkai hewan tersebut mengeluarkan bau busuk, kata Kepala Polsek Pasirian, Agus Sugiarto, seraya menambahkan bahwa dirinya tidak yakin dengan spesies paus tersebut.

Terkait kematian paus tersebut, Kapolsek Lumajang Ajun Komisaris Besar Muhammad Arsal Sahban berspekulasi bahwa mamalia tersebut bisa saja mati di laut sebelum bangkainya terdampar di darat.

Pada November 2018, Indonesia menjadi sorotan media arus utama dalam dan luar negeri setelah ditemukannya paus sperma yang mati dengan 5,9 kilogram sampah plastik di dalam perutnya.

Paus sperma naas itu ditemukan terdampar di pantai Taman Nasional Laut Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada 19 November 2018.

Kematian paus sperma (physeter macrocephalus) naas dipublikasikan secara luas dan disiarkan oleh media berita internasional terkemuka, termasuk Associated Press, CNN, BBC, ABC, The Guardian, dan National Geographic.

Terdampar di pantai Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, mamalia laut yang mati ini menambah jumlah paus yang mati setelah menelan sampah plastik. (Ant)

Post A Comment:

0 comments:

Thank you for your kind comment, we really appreciate it.